Selamat datang di Zona Yoggazta Jaga sikap dan tanamkan kedamaian ya Dan jadiLah diri kamu sendiri ok Yoggazta Cinta Damai

Minggu, 02 Juni 2013

Konsep Pengembangan Obat Baru Berlandaskan Farmakogenomika


 Istilah Farmakogenomik dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari mengenai variable genetika antara perbedaan satu individu dengan individu lainnya dalam menerima respons suatu obat. Jika berbicara mengenai konsep yang akan dilakukan dalam pengembangan obat baru yang berlandaskan farmakogenomik jelas memerlukan waktu yang cukup lama dan biaya tidak sedikit, hal ini dikarenakan sangat rumitnya cara yang dilakukan untuk mencari variasi gen yang menyebabkan respon obat terhadap satu individu dengan individu lainnya berbeda.
 Saat ini obat yang berkembang di masyarakat hanyalah obat yang telah teruji secara klinis secara umum, optimasi atau keterulangan pemberian dosispun dilakukan beberapa kali untuk mendapatkan efek obat secara maksimal. Hal tersebut tidak selalu berhasil dalam menyembuhkan suatu penyakit antara satu individu dengan individu lainnya yang dikarenakan gen dari setiap individu yang berbeda. Saat ini telah dikembangkan ilmu farmakogenomik yang mana satu individu dapat mengetahui profil genetiknya baik respon terhadap suatu obat yang dapat menyebabkan alergi atau ketidakcocokkan suatu obat.
Berkembangnya ilmu farmakogenomika ini jelas mempermudah suatu individu dalam menentukan suatu obat yang pasti dengan riwayat penyakitnya yang disesuaikan dengan gen. Semakin banyak informasi yang diketahui mengenai peranan genetika terhadap respon obat terlebih pada tingkat molekular dan hal inilah yang akan menjadi faktor pendukung dalam konsep pengembangan obat baru berlandaskan farmakogenomika.
Heterogenitas genom manusia merupakan suatu kunci utama dalam mengidentifikasi suatu respon obat secara molekular. Genom atau DNA ini merupakan suatu materi genetika yang sangat penting, karena informasi genetik dari DNA ini akan diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya dengan dengan mengalami suatu proses mutasi. Sebagian besar perbedaan yang terjadi pada manusia dipengaruhi oleh Single Nuclotide Polimorphisms (SNPs) yang terjadi pada genomnya, hal inilah yang menyebabkan suatu alasan individu dalam perbedaan respon penyakit maupun tubuhnya terhadap penggunaan obat.
Konsep dalam mengembangkan penemuan obat baru melibatkan semua bidang seperti ilmu kimia, farmasetika, farmakologi, mikrobiologi, biokimia dan teknologi farmasi. Peranan biologi molekular juga diyakini dapat mempercepat penemuan obat baru dengan menelusuri proses perkembangan penyakit pada tingkat molekular dan genetika sehingga dapat ditentukan cara apa yang akan dipilih untuk suatu penyakit tertentu dengan obat yang akan dikembangkannya. Pengembangan obat baru dapat pula dilakukan dengan pendekatan struktur molekular suatu obat yang disesuaikan dengan struktur target. Struktur target ini dapat diasumsikan sebagai suatu protein baik dalam bentuk reseptor, enzim, ataupun DNA yang dapat ditentukan menggunakan perangkat bioinformatik atau aktivitas farmakologinya. Jika suatu struktur target telah diketahui, misalnya dengan spektroskopi NMR, maka akan dapat ditentukan molekul obat yang akan masuk ke dalam struktur target, sehingga kita dapat melakukan simulasi untuk membuktikannya apakah terdapat interaksi atau tidak. Struktur target yang baik adalah yang mampu menyeleksi beberapa calon molekul obat yang secara aktif dapat berinteraksi dengan target dan obat tersebut dapat efektif. Terdapat beberapa langkah dalam pengembangan obat baru yang berlandaskan farmakogenomik :
1.      Mengidentifikasi struktur target
Target harus teridentifikasi, dimana suatu daerah tertentu yang terdapat pada genom atau DNA erat hubungannya dengan manifestasi penyakit. Salah satu contoh struktur target yang sudah teridentifikasi yaitu ditemukannya apilopoprotein E4 sebagai faktor penting dalam penanganan penyakit Alzheimer.

2.      Karakteristik target
Karakteristik target ini dilakukan untuk mengidentifikasi adanya varian-varian gen yang terpilih. Hal ini sangatlah penting dalam menemukan varian-varian gen yang dapat mempengaruhi struktur asam amino dan fungsi protein. Penentuan karakteristik dapat dilakukan dengan tekhnik microarrays.

3.      Validasi target
Langkah ini adalah tahapan untuk menentukan atau pemilihan obat atau golongan obat yang dapat digunakan untuk pengobatan jenis penyakit tertentu.

4.      Sifat farmakogenetik dari molekul
Enzim spesifik atau reseptor yang berhubungan dengan metabolisme obat dapat dijadikan suatu struktur target. Dalam merancang sebuah obat, industri farmasi dihadapkan kepada sejumlah besar sel target obat. Diperkirakan genom manusia terdiri dari 35.000 jenis gen, dan diperkirakan terdapat 3 juta Single Nuclotide Polimorphisms (SNPs) di dalam genom manusia yang erat kaitannya dengan kondisi penyakit atau berpengaruh pada profil farmakokinetik penggunaan obat, memberikan pengaruh yang teramat besar pada keberagaman sel target obat.

Dewasa ini berbagai gen yang bertanggungjawab terhadap munculnya suatu penyakit terdapat di dalam kromosom dan menyebabkan beberapa mutasi gen yang menyebabkan beberapa penyakit sudah teridentifikasi. Saat ini kurang lebih industri farmasi telah memasarkan 500 jenis target obat telah dipublikasikan untuk jenis obat yang telah dipasarkan. Pengetahuan yang lengkap mengenai gen dan protein manusia adalah langkah cepat dalam penemuan obat baru sesuai profil target yang diinginkan.
Selama ini diperkirakan bahwa metabolisme obat masing-masing individu disebabkan oleh perbedaan struktur gen tunggal (monogenic), namum secara keseluruhan efek farmakologik suatu pengobatan tidak bersifat monogenic, tetapi merupakan gabungan dari beberapa gen yang menghubungkan antara protein dan enzim yang bertanggung jawab pada jalur metabolisme obat, disposisi dan respon yang terjadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan jika ada pendapat lain, masukan, atau kritik membangun untuk kebaikan penulis, khalayak, dan isi blog ini bisa tuliskan pesan di bawah ini dengan menyertakan identitas. Terima kasih.