Selamat datang di Zona Yoggazta Jaga sikap dan tanamkan kedamaian ya Dan jadiLah diri kamu sendiri ok Yoggazta Cinta Damai

Sabtu, 15 Desember 2012

Suppositoria

Suppositoria adalah sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk, yang diberikan melalui rectal, vagina atau uretra. Umumnya meleleh, melunak atau melarut pada suhu tubuh. Suppositoria dapat bertindak sebagai pelindung jaringan setempat, sebagai pembawa zat terapetik yang bersifat local atau sistematik. (Farmakope Indonesia Edisi IV).

Suppositoria adalah sediaan padat yang digunakan melalui rectal, umumnya berbentuk torpedo dapat melarut, melunak dan meleleh pada suhu tubuh dengan menghasilkan efek sistemik maupun lokal.

Suppositoria merupakan obat luar karena penggunaannya tidak melewati mulut dan tidak menuju ke arah lambung, hanya dimetabolisme dalam darah dan dinding usus.
Pembuatan sediaan suppositoria dapat menggunakan berbagai macam basis. Basis yang digunakan harus larut dalam air dan meleleh dalam suhu tubuh, seperti :

1.  Lemak coklat
Lemak ini merupakan senyawa trigliserida, berwarna kekuningan dan baunya khas. Mudah meleleh pada suhu 34oC. Bila dipanaskan dalam suhu tinggi, lemak ini akan mencair seperti minyak, tetapi akan kehilangan bentuk kristalnya yang berfungsi sebagai pemadat. Lemak coklat bila didinginkan di bawah suhu 15oC akan membentuk kristal metastabil. Pemanasan lemak coklat tidak boleh terlalu mencair, pemanasan dilakukan sampai lemak dapat dituangkan. Penambahan cera dan cetaceum dapat menaikan titik lebur coklat. Cera flava berfungsi menaikkan daya serap lemak coklat terhadap air.
2. PEG
Bila dibandingkan dengan lemak coklat, keuntungan PEG mudah larut dalam cairan rectum, tidak ada modifikasi titik lebur yang berarti, dan tidak mudah meleleh pada suhu kamar.
3. Gelatin

Alasan digunakan Suppositoria :
1. Suppositoria biasanya diberikan kepada pasien-pasien khusus yang tidak bisa mengonsumsi obat secara oral lewat mulut. Hal ini bisa terjadi misalnya pada pasien yang sedang tidak sadarkan diri, pasien yang jika menerima sediaan oral akan muntah, pasien bayi, dan pasien lanjut usia, yang juga sedang dalam keadaan tidak memungkinkan untuk menggunakan sediaan parenteral (obat suntik).
2. Suppositoria juga didesain untuk beberapa zat aktif yang dapat mengiritasi lambung serta zat aktif yang dapat terurai oleh kondisi saluran cerna, jika digunakan secara oral. Misalnya, zat aktif yang akan rusak dalam suasana asam lambung, rusak oleh pengaruh enzim pencernaan, atau akan hilang efek terapinya karena mengalami first pass effect.
3. Penggunaan suppositoria tidak hanya ditujukan untuk efek lokal seperti pengobatan ambeien, anestesi lokal, antiseptik, antibiotik, dan antijamur, tetapi juga bisa ditujukan untuk efek sistemik sebagai analgesik, anti muntah, anti asma, dan sebagainya.

Cara penggunaan Suppositoria :
Bagi anda yang merasa malu atau tidak biasa dengan penggunaan suppositoria (karena digunakan lewat lubang dubur), anda bisa menggunakannya sendiri, berikut langkah-langkahnya :
1. Cuci kedua tangan sampai bersih dengan air dan sabun.
2. Sebelum dikeluarkan dari wadah, jika suppositoria terasa melunak, simpan di kulkas atau rendam dalam air dingin selama beberapa saat untuk mengeraskannya kembali.
3. Buka wadah pembungkus suppositoria.
4. Jika diminta untuk menggunakan hanya setengahnya, maka potong di bagian tengah dengan rata menggunakan pisau yang tajam.
5. Bagian ujung suppositoria dilumasi dengan lubrikan larut air supaya licin, jika tidak ada bisa ditetesi sedikit dengan air keran.
6. Diperbolehkan memakai sarung tangan bersih jika ingin.
7. Atur posisi tubuh berbaring menyamping dengan kaki bagian bawah diluruskan sementara kaki bagian atas ditekuk ke arah perut.

8. Angkat bagian atas dubur untuk menjangkau ke daerah rektal.

9. Masukkan suppositoria, ditekan dan ditahan dengan jari telunjuk, sampai betul-betul masuk ke bagian otot sfinkter rektum (sekitar ½ – 1 inci dari lubang dubur). Jika tidak dimasukkan sampai ke bagian otot sfinkter, suppositoria ini akan terdorong keluar lagi dari lubang dubur.

10. Suppositoria sudah masuk melalui lubang dubur.
11. Tahan posisi tubuh tetap berbaring menyamping dengan kedua kaki menutup selama kurang lebih 5 menit untuk menghindari suppositoria terdorong keluar.

12. Buang wadah suppositoria yang sudah terpakai dan kembali cuci kedua tangan sampai bersih.


-Yoga Kevan Rahmat-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan jika ada pendapat lain, masukan, atau kritik membangun untuk kebaikan penulis, khalayak, dan isi blog ini bisa tuliskan pesan di bawah ini dengan menyertakan identitas. Terima kasih.