Selamat datang di Zona Yoggazta Jaga sikap dan tanamkan kedamaian ya Dan jadiLah diri kamu sendiri ok Yoggazta Cinta Damai

Minggu, 18 November 2012

Penetapan Kadar Sulfur Dalam Salep Sulfur (KFA)



LAPORAN KIMIA FARMASI ANALISIS II
KUANTITATIF
Penetapan Kadar Sulfur Dalam Salep Sulfur

logo.JPG

 23 Februari 2012
Oleh     :
Kelompok 4
Esa J Sukma                NIM 31109047
Hilda Safitri                 NIM 31109049
Lia Nurmayasari          NIM 31109051
Ramdani Adinata         NIM 31109056
Yoga Kevan Rahmat    NIM 31109071

PRODI FARMASI
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
BAKTI TUNAS HUSADA
TASIKMALAYA
2012

No. praktikum                  : 3
Judul praktikum                          : (Titrasi Iodimetri)Penetapan Kadar Sulfur Dalam    
Salep Sulfur
Hari/ tanggal praktikum  : Kamis/ 23 februari 2012
Sampel                               : Salep Sulfur 2 (Kelompok 4)

A.    Prinsip Percobaan    
Prinsip kerja dalam penentuan kadar sampel salep sulfur adalah titrasi secara langsung dengan menitrasi sulfur yang sudah didisolsi dari basisnya yaitu vaselin, bersama Iodium (zat uji atau sampel langsung dititrasi dengan pentiter dan hanya menggunakan satu macam baku sekunder). Setelah diisolasi, kemudian dilakukan refluks terlebih dahulu yaitu, untuk mengubah sulfur menjadi  Natrium tiosulfat, dan selanjutnya bisa dititrasi.
Dalam hal ini, titrasi redoks didasarkan pada perpindahan elektron antara titran dengan analit. Jumlah elektron yang dilepaskan oleh reduktor harus sama dengan jumlah elektron yang diterima oleh oksidator. Ada dua cara untuk menyetarakan persamaan reaksi redoks yaitu metode bilangan oksidasi dan metode setengah reaksi (metode ion elektron).

B.     Reaksi Kimia

ü Reaksi Kimia Pembakuan I2 dengan Na2S2O3 :
I2 + 2 Na2S2O3 2 NaI + S4O6
ü Reaksi Kimia Pembakuan Na2S2O3 dengan larutan K2Cr2O7 :
Cr2O72- + 14H+ + 6 I-                      3 I2 +2 Cr3+ + 7 H2O
ü Reaksi Kimia Penetapan Kadar Sampel Sufur pada salep sulfur
Sodium tiosulfat (Na2S2O3, 5H2O) dapat digunakan sebagai standarisasi larutan Iodium, dimana oksidasi dirubah menjadi sodium tetrationat.
2S2O32- → S4O62- + 2e
I2 + 2e → 2I-
Sulfur dirubah menjadi sodium tiosulfat dengan merefluks sehingga menghasilkan larutan sodium sulfit.
Na2SO3 + S → Na2S2O3
Untuk menghasilkan Sodium sulfit dapat direaksikan dengan iodium (I2) dengan menambahkan Formaldehid dan sodium tiosulfat dapat dititrasi dengan 0,1 N Iodium.

C.    Dasar Teori    :
a.      Teori Umum Titrasi Reduksi-Oksidasi (Titrasi Iodimetri)
Titrasi reduksi dan oksidasi (redoks) adalah titrasi yang melibatkan reaksi redoks, dimana terjadi peristiwa oksidasi dan reduksi secara bersamaan. Beberapa tahapan perkembangan titrasi reduksi dan oksidasi (redoks) pada berbagai masa, diantaranya :
*      1787 Claude Berthollet
Claude Berthollet  memperkenalkan metode analisis kuantitatif klorin dalam air menggunakan zat warna indigo.
*   1814 Joseph Louis Gay Lussac
Joseph Louis Gay Lussac Mengembangkan metode yang sama untuk analisis klorin dalam bubuk pemutih.
*      Pada pertengahan tahun 1800 metode titrasi redoks ini berkembang, sehingga dapat dikelompokkan menjadi :
       Titrasi menggunakan titran pengoksidasi : MnO4-, Cr2O72-, Ce4+ dan I2. Digunakan untuk larutann yang mudah dioksiasi.
       Titrasi mmenggunakan titran pereduksi : Fe2+, HAsO2 dan S2O32- digunakan untuk larutann yang bersifat oksidator kuat.
       Titrasi tidak langsung, digunakan untuk larutan yang bersifat oksidator, misalnya iodometri.

Oksidasi adalah pelepasan atau kehilangan satu atau lebih elektron dari suatu atom, ion atau molekul dengan keadaan oksidasi yang lebih tinggi (lebih positif) daripada reduksi. Dengan kata lain, oksidasi adalah reaksi pelepasan elektron atau peningkatan bilangan oksidasi. Contoh titrasi reduksi dan oksidasi (redoks), yaitu :
*        Ma+             M(a+n)+ + ne-
*      Fe2+                  Fe3+ + e-
*      Zn(s)                  Zn2+(aq)  + 2e

Sedangkan reduksi adalah penangkapan satu atau lebih elektron oleh suatu atom, ion atau molekul. Dengan kata lain reduksi adalah penambahan keadaan oksidasi yang lebih rendah (lebih negatif) daripada oksidasi sehingga terjadi penurunan bilangan oksidasi. Contoh titrasi reduksi dan reduksi (redoks), yaitu :

*      Ce4+ + e-            Ce3+

*      Cu2+(aq) + 2e- à Cu(s)



Tidak ada elektron bebas dalam sistem kimia, dan pelepasan elektron oleh suatu zat kimia selalu disertai dengan penangkapan elektron oleh bagian yang lain, dengan kata lain reaksi oksidasi selalu diikuti reaksi reduksi.

Dalam reaksi oksidasi reduksi (redoks) terjadi perubahan valensi dari zat-zat yang mengadakan reaksi. Disini terjadi transfer elektron dari pasangan pereduksi ke pasangan pengoksidasi. Kedua reaksi paro dari suatu reaksi redoks umumnya dapat ditulis sbb :
red             oks + ne
di mana red menunjukkan bentuk tereduksi (disebut juga reduktan atau zat pereduksi), oks adalah bentuk teroksidasi (oksidan atau zat pengoksidasi), n adalah jumlah elektron yang ditransfer dan e adalah elektron. Contoh reaksi redoks:
*      Cu2+(aq) + 2e-                  Cu(s)
*      Zn(s)                Zn2+(aq) + 2e-
*      Cu2+(aq) + Zn(s)                Cu(s) + Zn2+(aq)

Reaksi redoks secara luas digunakan dalam analisa titrimetrik dari zat-zat anorganik maupun organik. Untuk menetapkan titik akhir pada titrasi redoks dapat dilakukan secara potensiometrik atau dengan bantuan indikator.
Analisis volumetri yang berdasarkan reaksi redoks diantaranya adalah bromatometri, iodometri, iodimetri, yodatometri, permanganometri dan serimetri.

1)      Iodometri dan Iodimetri
Istilah oksidasi mengacu pada setiap perubahan kimia dimana terjadi kenaikan bilangan oksidasi, sedangkan reduksi digunakan untuk setiap penurunan bilangan oksidasi. Berarti proses oksidasi disertai hilangnya elektron sedangkan  reduksi memperoleh elektron. Oksidator adalah senyawa di mana atom yang terkandung mengalami penurunan bilangan oksidasi. Sebaliknya pada reduktor, atom yang terkandung mengalami kenaikan bilangan oksidasi. Oksidasi-reduksi harus selalu berlangsung bersama dan saling menkompensasi satu sama lain. Istilah oksidator reduktor mengacu kepada suatu senyawa, tidak kepada atomnya saja.
Oksidator lebih jarang ditentukan dibandingkan reduktor. Namun demikian, oksidator dapat ditentukan dengan reduktor. Reduktor yang lazim dipakai untuk penentuan oksidator adalah kalium iodida, ion titanium(III), ion besi(II), dan ion vanadium(II). Cara titrasi redoks yang menggunakan larutan iodium sebagai pentiter disebut iodimetri, sedangkan yang menggunakan larutan iodida sebagai pentiter disebut iodometri.
Dalam proses analitik, iodium digunakan sebagai pereaksi oksidasi (iodimetri) dan ion iodida digunakan sebagai pereaksi reduksi (iodometri). Relatif beberapa zat merupakan pereaksi reduksi yang cukup kuat untuk dititrasi secara langsung dengan iodium.  Maka jumlah penentuan iodimetrik adalah sedikit. Akan tetapi banyak pereaksi oksidasi cukup kuat untuk bereaksi sempurna dengan ion iodida, dan ada banyak penggunaan proses iodometrik. Suatu kelebihan ion iodida ditambahkan kepada pereaksi oksidasi yang ditentukan, dengan pembebasan iodium, yang kemudian dititrasi dengan larutan natrium tiosulfat.  Reaksi antara iodium dan tiosulfat berlangsung secara sempurna.
Iodium hanya sedikit larut dalam air (0,00134 mol per liter pada 25 0C), tetapi agak larut dalam larutan yang mengandung ion iodida.  Larutan iodium standar dapat dibuat dengan menimbang langsung iodium murni dan pengenceran dalam botol volumetrik.  Iodium, dimurnikan dengan sublimasi dan ditambahkan pada suatu larutan KI pekat, yang ditimbang dengan teliti sebelum dan sesudah penembahan iodium. Akan tetapi biasanya larutan distandarisasikan terhadap suatu standar primer, As2O3 yang paling biasa digunakan.
Larutan standar yang dipergunakan dalam kebanyakan proses iodometrik adalah natrium tiosulfat. Garam ini biasanya tersedia sebagai pentahidrat Na2S2O3.5H2O. Larutan tidak boleh distandarisasi dengan penimbangan secara langsung, tetapi harus distandarisasi terhadap standar primer. Larutan natrium tiosulfat tidak stabil untuk waktu yang lama. Sejumlah zat padat digunakan sebagai standar primer untuk larutan natrium tiosulfat. Iodium murni merupakan standar yang paling nyata, tetapi jarang digunakan karena kesukaran dalam penanganan dan penimbangan. Lebih sering digunakan pereaksi yang kuat yang membebaskan iodium dari iodida, suatu proses iodometrik.
Metode titrasi iodometri langsung (kadang-kadang dinamakan iodimetri) mengacu kepada titrasi dengan suatu larutan iod standar. Metode titrasi iodometri tak langsung (kadang-kadang dinamakan iodometri), adalah berkenaan dengan titrasi dari iod yang dibebaskan dalam reaksi kimia. Potensial reduksi normal dari sistem reversibel:
I2(solid) 2 e               2 I-
adalah 0,5345 volt. Persamaan di atas mengacu kepada suatu larutan air yang jenuh dengan adanya iod padat; reaksi sel setengah ini akan terjadi, misalnya, menjelang akhir titrasi iodida dengan suatu zat pengoksid seperti kalium permanganat, ketika konsentrasi ion iodida menjadi relatif rendah. Dekat permulaan, atau dalam kebanyakan titrasi iodometri, bila ion iodida terdapat dengan berlebih, terbentuklah ion tri-iodida:
I2(aq) + I-               I3-
Karena iod mudah larut dalam larutan iodida. Reaksi sel setengah itu lebih baik ditulis sebagai:
I3- + 2 e           3 I-
Dan potensial reduksi standarnya adalah 0,5355 volt. Maka, iod atau ion    tri-iodida merupakan zat pengoksid yang jauh lebih lemah ketimbang kalium permanganat, kalium dikromat, dan serium (IV) sulfat.
Dalam kebanyakan titrasi langsung dengan iod (iodimetri), digunakan suatu larutan iod dalam kalium iodida, dan karena itu spesi reaktifnya adalah ion tri-iodida, I3-.
Warna larutan 0,1 N iodium adalah cukup kuat sehingga iodium dapat bekerja sebagai indikatornya sendiri. Iodium juga memberi warna ungu atau merah lembayung yang kuat kepada pelarut-pelarut sebagai karbon tetraklorida atau kloroform dan kadang-kadang hal ini digunakan untuk mengetahui titik akhir titrasi. Akan tetapi lebih umum digunakan suatu larutan (dispersi koloidal) kanji, karena warna biru tua dari kompleks kanji-iodium dipakai untuk suatu uji sangat peka terhadap iodium. Kepekaan lebih besar dalam larutan yang sedikit asam daripada larutan netral dan lebih besar dengan adanya ion iodida.
Dalam menganalisa suatu senyawa dalam hal ini adalah obat dapat digunakan analisis secara kuantitatif (penetapan banyak suatu zat tertentu yang ada dalam sampel) dan analisis secara kualitatif (identifikasi zat-zat dalam suatu sampel). Intinya tujuan analisis secara kualitatif adalah memisahkan serta mengidentifikasi sejumlah unsur.
Diantara sekian banyak contoh teknik atau cara dalam analisis kuantitatif terdapat dua cara melakukan analisis dengan menggunakan senyawa pereduksi iodium yaitu secara langsung dan tidak langsung. Cara langsung disebut iodimetri (digunakan larutan iodium untuk mengoksidasi reduktor-reduktor yang dapat dioksidasi secara kuantitatif pada titik ekivalennya). Namun, metode iodimetri ini jarang dilakukan mengingat iodium sendiri merupakan oksidator yang lemah. Sedangkan cara tidak langsung disebut iodometri (oksidator yang dianalisis kemudian direaksikan dengan ion iodida berlebih dalam keadaan yang sesuai yang selanjutnya iodium dibebaskan secara kuantitatif dan dititrasi dengan larutan natrium tiosulfat standar atau asam arsenit.
Dengan kontrol pada titik akhir titrasi jika kelebihan 1 tetes titran. perubahan warna yang terjadi pada larutan akan semakin jelas dengan penambahan indikator amilum/ kanji.
Iodium merupakan oksidator lemah. Sebaliknya ion iodida merupakan suatu pereaksi reduksi yang cukup kuat. Dalam proses analitik iodium digunakan sebagai pereaksi oksidasi (iodimetri) dan ion iodida digunakan sebagai pereaksi reduksi (iodometri). Relatif beberapa zat merupakan pereaksi reduksi yang cukup kuat untuk dititrasi secara langsung dengan iodium. Maka jumlah penentuan iodometrik adalah sedikit. Akan tetapi banyak pereaksi oksidasi cukup kuat untuk bereaksi sempurna dengan ion iodida, dan ada banyak penggunaan proses iodometrik. Suatu kelebihan ion iodida ditambahkan kepada pereaksi oksidasi yang ditentukan, dengan pembebasan iodium, yang kemudian dititrasi dengan larutan natrium tiosulfat.
Metode titrasi iodometri langsung (iodimetri) mengacu kepada titrasi dengan suatu larutan iod standar. Metode titrasi iodometri tak langsung (iodometri) adalah berkenaan dengan titrasi dari iod yang dibebaskan dalam reaksi kimia.
Larutan standar yang digunakan dalam kebanyakan proses iodometri adalah natrium tiosulfat. Garam ini biasanya berbentuk sebagai pentahidrat Na2S2O3 . 5H2O. Larutan tidak boleh distandarisasi dengan penimbangan secara langsung, tetapi harus distandarisasi dengan standar primer. Larutan natrium tiosulfat tidak stabil untuk waktu yang lama.
Tembaga murni dapat digunakan sebagai standar primer untuk natrium tiosulfat dan dianjurkan apabila tiosulfat harus digunakan untuk penentuan tembaga. Potensial standar pasangan Cu(II) – Cu(I),
Cu2+ + e                   Cu+                                     Eo= +0.15 V
Karena harga E° iodium berada pada daerah pertengahan maka sistem iodium dapat digunakan untuk oksidator maupun reduktor. I2 adalah oksidator lemah sedangkan iodida secara relatif merupakan reduktor lemah. Jika Eo tidak bergantung pada pH (pH < 8.0) maka persamaan reaksinya
I2(s) + 2 e-                            2 I-                                    Eo= 0.535 V
I2 adalah oksidator lemah sedangkan iodida secara relatif merupakan reduktor lemah. Kelarutannya cukup baik dalam air dengan pembentukan triodida [KI3].
I2(s) + 2 e-                 2 I-                            Eo= 6.21 V
Dengan demikian iodium Eo= + 0.535 V merupakan pereaksi yang lebih baik daripada ion Cu(II). Akan tetapi bila ion iodida ditambahkan pada suatu larutan Cu(II), maka suatu endapan CuI terbentuk
2 Cu2+ + 4 I-               2 CuI(p) + I2
Reaksi dipaksa berlangsung ke kanan dengan pembentukan endapan dan juga dengan penambahan ion iodida berlebih.
pH larutan harus dipertahankan oleh suatu buffer, lebih baik antara 3 dan 4. Pada harga pH lebih tinggi hidrolisa sebagian dari ion Cu(II) berlangsung dan reaksi dengan ion iodida adalah lambat. Dalam larutan berasam tinggi oksidasi dengan katalis tembaga dari ion iodida terjadi dengan kecepatan cukup tinggi.
Iodium dapat dimurnikan dengan sublimasi. Ia larut dalam larutan KI dan harus disimpan pada tempat yang dingin dan gelap. Berkurangnya iodium dan akibat penguapan dan oksidasi udara menyebabkan banyak kesalahan dalam analisis. Dapat distandarisasi dengan Na2S2O3.5H2O yang lebih dahulu distandarisasi dengan K2Cr2O7. Reaksi :
Cr2O72- + 14H+ + 6 I-                    3 I2 +2 Cr3+ + 7 H2O
Biasanya indikator yang digunakan adalah kanji/amilum. Iodida pada konsentrasi < 105 M dapat dengan mudah ditekan oleh amilum. Sensitivitas warnanya tergantung pada pelarut yang digunakan. Kompleks iodium-amilum mempunyai kelarutan kecil dalam air sehingga biasanya ditambahkan pada titik akhir reaksi.
Warna larutan 0,1 N iodium adalah cukup kuat sehingga dapat bekerja sebagai indikatornya sendiri. Iodium juga memberikan warna ungu atau merah lembayung yang kuat kepada pelarut-pelarut seperti karbon tetraklorida atau kloroform dan kadang-kadang hal ini digunakan untuk mengetahui titik akhir titrasi. Akan tetapi lebih umum digunakan suatu larutan (dispersi koloidal) kanji, karena warna biru tua dari kompleks kanji-iodium dipakai untuk suatu uji sangat peka terhadap iodium. Kepekaan lebih besar dalam larutan yang sedikit asam dari pada dalam larutan netral dan lebih besar dengan adanya ion iodida.
Zat-zat pereduksi yang kuat (zat-zat potensial reduksi yang jauh lebih rendah), seperti timah(II)klorida, asam sulfat, hidrogen sulfida, dan natrium tiosulfat, bereaksi lengkap dan cepat dengan iod, bahkan dalam larutan asam. Dengan zat pereduksi yang lemah misalnya arsen trivalen, atau stibium trivale, reaksi yang lengkap hanya akan terjadi bila larutan dijaga tetap netral atau, sangat sedikit asam; pada kondisi ini, potensial reduksi adalah minimum, atau daya mereduksinya adalah maksimum.
Jika suatu zat pengoksid kuat diolah dalam larutan netral atau (lebih biasa) larutan asam, dengan ion iodida yang sangat berlebih, yang terakhir bereaksi sebagai zat prereduksi, dan oksidan akan direduksi secara kuantitatif. Dalam hal-hal yang demikian, sejumlah iod yang ekivalen akan dibebaskan, lalu dititrasi dengan larutan standar suatu zat pereduksi, biasanya natrium tiosulfat.
Potensial reduksi dari zat-zat tertentu naik banyak sekali dengan naiknya konsentrasi ion-hidrogen dari larutan. Inilah halnya dalam sistem-sistem yang mengandung permanganat, dikromat, arsenat, antimonat, borat dan sebagainya yakni, dengan anion-anion yang mengandung oksigen dan karenanya memerlukan hidrogen untuk reduksi lengkap. Banyak anion pengoksid yang lemah direduksi lengkap oleh ion iodida, jika potensial reduksi merekanaik banyak sekali karena adanya jumlah besar asam dalam larutan.
Dua sumber sesatan yang penting dalam titrasi yang melibatkan iod adalah:
1)      Kehilangan iod yang disebabkan oleh sifat mudah menguapnya yang cukup berarti, dan
2)      Larutan iodida yang asam dioksidasi oleh oksigen di udara:
4 I- + O2 + 4 H+                 2 I2 + 2 H2O
Reaksi diatas lambat dalam larutan netral tetapi lebih cepat dalam larutan berasam dan dipercepat oleh cahaya matahari. Setelah penambahan kalium iodida pada larutan berasam dari suatu pereaksi oksidasi, larutan harus tidak dibiarkan untuk waktu yang lama berhubungan dengan udara, karena iodium tambahan akan terbentuk oleh reaksi yang terdahulu. Nitrit harus tidak ada, karena akan direduksi oleh ion iodida menjadi nitrogen (II) oksida yang selanjutnya dioksidasi kembali menjadi nitrit oleh oksigen dari udara:
2 HNO2 + 2 H+ + 2 I-                      2 NO + I2 + 2 H2O
4 NO + O2 + 2 H2O                     4 HNO2
Kalium iodida harus bebas iodat karena kedua zat ini bereaksi dalam larutan berasam untuk membebaskan iodium:
IO3- + 5 I- + 6 H+             3 I2 + 3 H2O

2)      Permanganometri
Permanganometri adalah penetapan kadar zat berdasarkan atas reaksi oksidasi reduksi dengan KMnO4. Dalam suasana asam reaksi dapat dituliskan sebagai berikut:

MnO4- + 8 H+ + 5 e                 Mn+ + 4 H2O

Dengan demikian berat ekivalennya seperlima dari berat molekulnya atau 31,606. Asam sulfat merupakan asam yang paling cocok karena tidak bereaksi dengan permanganat. Sedangkan dengan asam klorida terjadi reaksi sebagai berikut:

2 MnO4- + 10 Cl- + 16 H+                   2 Mn++ 5 Cl2 + 8 H2O

Untuk larutan tidak berwarna, tidak perlu menggunakan indikator, karena 0,01 ml kalium permanganat 0,1 N dalam 100 ml larutan telah dapat dilihat warna ungunya. Untuk memperjelas titik akhir dapat ditambahkan indikator redoks seperti feroin, asam N - fenil antranilat. Penambahan indikator ini biasanya tidak diperlukan, kecuali jika menggunakan kalium permanganat 0,01 N .
Kalium permanganat telah digunakan sebagai pengoksida secara meluas lebih dari 100 tahun. Reagensia ini mudah diperoleh, murah dan tidak memerlukan indikator kecuali bila digunakan larutan yang sangat encer. Permanganat bereaksi secara beraneka, karena mangan dapat memiliki keadaan oksidasi +2, +3, +4, +6, dan +7.
Dalam suasana asam atau [H+] ≥ 0,1 N, ion permanganat mengalami reduksi menjadi ion mangan (II) sesuai reaksi :
MnO4- + 8H+ + 5e-            Mn2+ + 4H2O                         Eo = 1,51 Volt
Dalam suasana netral, ion permanganat mengalami reduksi menjadi mangan dioksida seperti reaksi berikut :
MnO4- + 4H+ + 3e-                  MnO2 + 2H2O                      Eo = 1,70 Volt
Dan dalam suasana basa atau [OH-] ≥ 0,1 N, ion permanganat akan mengalami reduksi sebagai berikut:
MnO4- + e-            MnO42-                        Eo = 0,56 Volt
Asam sulfat adalah asam yang paling sesuai, karena tidak bereaksi terhadap permanganat dalam larutan encer. Dengan asam klorida, ada kemungkinan terjadi reaksi :
2 MnO4- + 10 Cl- + 16 H+              2 Mn2+ + 5 Cl2 + 8 H2O
dan sedikit permanganat dapat terpakai dalam pembentukan klor. Reaksi ini terutama berkemungkinan akan terjadi dengan garam-garam besi, kecuali jika tindakan-tindakan pencegahan yang khusus diambil. Dengan asam bebas yang sedikit berlebih, larutan yang sangat encer, temperatur yang rendah, dan titrasi yang lambat sambil mengocok terus-menerus, bahaya dari penyebab ini telah dikurangi sampai minimal. Pereaksi kalium permanganat bukan merupakan larutan baku primer dan karenanya perlu dibakukan terlebih dahulu. Pada percobaan ini untuk membakukan kalium permanganat ini dapat digunakan natrium oksalat yang merupakan standar primer yang baik untuk permanganat dalam larutan asam.
Untuk pengasaman sebaiknya dipakai asam sulfat, karena asam ini tidak menghasilkan reaksi samping. Sebaliknya jika dipakai asam klorida dapat terjadi kemungkinan teroksidasinya ion klorida menjadi gas klor dan reaksi ini mengakibatkan dipakainya larutan permanganat dalam jumlah berlebih. Meskipun untuk beberapa reaksi dengan arsen (II) oksida, antimoni (II) dan hidrogen peroksida, karena pemakaian asam sulfat justru akan menghasilkan beberapa tambahan kesulitan. Kalium pemanganat adalah oksidator kuat, oleh karena itu jika berada dalam HCl akan mengoksidasi ion Cl- yang menyebabkan terbentuknya gas klor dan kestabilan ion ini juga terbatas. Biasanya digunakan pada medium asam 0,1 N. Namun, beberapa zat memerlukan pemanasan atau katalis untuk mempercepat reaksi. Seandainya banyak reaksi itu tidak lambat, akan dijumpai lebih banyak kesulitan dalam menggunakan reagensia ini.
MnO4- + 8H+ + 5e              Mn2+ + 4H2O               E0 = 1,51V
       Indikator-indikator yang digunakan pada penentuan titik akhir titrasi reduksi dan oksidasi (redoks) adalah :
a)      Warna dari pereaksinya sendiri (Autoindikator)
Apabila pereaksinya sudah mempunyai warna yang kuat, kemudian warna tersebut hilang atau berubah bila direaksikan dengan zat lain, maka pereaksi tersebut dapat bertindak sebagai indikator. Contohnya :
1)      Larutan KMnO4
KMnO4 berwarna ungu bila direduksi berubah menjadi ion Mn2+ yang tidak berwarna.
2)      Larutan I2
Larutan I2 yang berwarna kuning-coklat, pada titik akhir dapat diketahui dari terbentuknya atau hilangnya warna kuning, perubahan warna ini dipertajam dengan larutan amilum.
                                                                          i.            I2 dengan amilum berwarna biru. Amilum terdiri dari amilosa dan amilopektin, amilosa dengan I2  berwarna biru sedangkan amilopektin dengan I2 berwarna ungu.
                                                                        ii.            Kloroform atau karbontetraklorida             I2 larut dalam kloroform atau karbon tetraklorida berwarna ungu.

b)      Indikator Redoks
Indikator redoks adalah indikator yang warna dalam bentuk oksidasinya berbeda dengan warna dalam bentuk reduksinya. Contoh :
q  Difenilamin dan difenilbensidina
Indikator ini sukar larut di dalam air, pada penggunaanya dilarutkan dalam asam sulfat pekat.
c)      Indikator Eksternal
Dipergunakan apabila indikator internal tidak ada. Contoh :
Ferrisianida untuk penentuan ion ferro memberikan warna biru (ferro ferrisianida) pada keping tetes dilakukan di luar labu titrasi.
d)     Indikator Spesifik
Yaitu zat yang bereaksi secara khas dengan salah satu pereaksi dalam titrasi dan menghasilkan warna. Contoh :
q Amilum membentuk warna biru dengan iodium,
q  Tiosianat membentuk warna merah dengan ion ferri.

Struktur kimia indikator redoks
Hadirnya sistem terkonjugasi yang panjang, pada ion difenilbenzidina menyebabkan penyerapan cahaya pada daerah tampak

Indikator feroin adalah kompleks besi (II) senyawa 1,10 fenantrolina. 3 molekul semacam itu mengikatkan diri ke ion besi membentuk ion kompleks merah darah. Ion besi(II) dapat dioksidasi menjadi besi(III). Warna kompleks besi(III) adalah biru muda.
Ph3Fe3+ + e                       Ph3Fe2+                        Eo=1,06V
(feroin)                             (feriin)
biru muda                       merah tua
       Syarat titrasi redoks
       Dalam keadaan tertentu hanya satu reaksi yang terjadi.
       Pada titik ekivalensinya reaksi harus berkesudahan.
       Harus ada indikator untuk menunjukkan titik akhir titrasi.
b.      Monografi Sampel
SULFUR PRAECIPITATUM
Belerang Endap

Rumus Kimia                                : S
BM                                                : 32,06
Belerang endap mengandung tidak kurang dari 99,5 % S dihitung terhadap zat anhidrat.
Pemerian                                       : Tidak berbau, tidak berasa
Makroskopik                                 : Serbuk lembek, bebas butiran ; kuning keabuan pucat atau kuning kehijauan pucat.
Mikroskopik                                  : Partikel hampir bulat berkelompok,  amorf, mudah larut dalam karbondisulfida P.
Kelarutan                                      : Praktis tidak larut dalam air, sangat mudah larut dalam karbondisulfida P, sukar larut dalam minyak zaitun P, sangat sukar larut dalam etanol (95%) P.
Identifikasi                                    :
A.     Melebur pada suhu lebih kurang 1150 berupa cairan mudahbergerak berwarna kuning yang jika dipanaskan pada suhu lebih kurang 1600, menjadi kental, berwarna gelap.
B.     Terbakar dengan nyala biru, membentuk belerangdioksida.
C.     Larutkan 1 mg dalam 2 mL piridina P panas, tambahkan 0,2 mL larutan natrium bikarbonat P, didihkan, terjadi warna biru atau hijau.
Keasaman-kebasaan                      : Kocok kuat-kuat 5,0 gram dengan 50 mL air bebas  karbondioksida P. Titrasi dengan natrium hidroksida 0,1 N menggunakan indikator larutan fenolftalein P, diperlukan tidak lebih dari 0,5 mL.
Arsen                                             : Tidak lebih dari 2 bpj.
Bahan                                            : tak larut dalam karbondisulfida kocok 1,0 g dengan 20 mL karbondisulfida P, biarkan selama 10 menit, saring. Cuci sisa dengan karbondisulfida P, keringkan, bobot sisa tidak lebih dari 5 mg.
Kadar air                                       : Tidak lebih dari 0,5% : penetapan dilakukan dengan cara titrasi yang tertera pada penetapan kadar air, menggunakan piridina P sebagai pengganti metanol P.
Sisa pemijaran                               : Tidak kurang dari 0,25%.
Penetapan kadar                            : Lakukan penetapan menurut cara pembakaran dengan oksigen, menggunakan 30 mg yang ditimbang seksama, dan campuran 5 mL air dan 2,5 mL larutan hidrogenperoksida P sebagai cairan jerap. Jika perubahan telah sempurna, isi bibir labu dengan air, kendorkan tutup dan bilas tutup, pemegang contoh dan dinding labu dengan air dan buka tutup. Panaskan hingga mendidih dan didihkan selama kurang lebih 2 menit. Dinginkan hingga suhu kamar dan titrasi dengan natrium hidroksida 0,05 N menggunakan indikator larutan fenolftalein P.1 mL natrium hidroksida 0,05 N setara dengan 0,8016 mg S.
Penyimpanan                                 : Dalam wadah tertutup baik.
Khasiat dan penggunaan               : Antikabies.
(Farmakope Indonesia, 1978)

c.       Metode Analisis

Dalam penentuan kadar sulfur dilakukan metode titrasi reduksi oksidasi. Karena sulfur merupakan suatu pereduktor yang dapat ditentukan kadarnya dengan suatu pengoksidator yaitu Iodium. Sehingga akan terjadi serah-terima elektron yaitu elektron diberikan oleh pereduksi (proses oksidasi) dan diterima oleh pengoksidasi (proses reduksi). Untuk lebih khususnya penetapan kadar sampel salep sulfur ini menggunakan metode titrasi iodimetri dimana digunakan larutan baku Iodium sebagai larutan pentiter.

D.    Alat dan Bahan        
a.       Alat :


1.      Buret
2.      Statif
3.      Klem
4.      Pipet volume 10 ml
5.      Erlenmeyer 250 ml
6.      Corong
7.      Gelas kimia
8.      Alat refluks
9.      Pipet tetes
10.  Kertas saring
11.  Timbangan analitik
12.  Bulf
13.  Gelas ukur 50 ml
14.  Kertas perkamen        


b.      Bahan :


1.      Sampel (Salep Sulfur)
2.      I2 dalam larutan KI
3.      Na2S2O2
4.      Amylum 0,5%
5.      K2Cr2O4
6.      Formaldehid







E.     Prosedur Kerja         
a.      Pembuatan Larutan Indikator Amylum 0,5%


 


  


Text Box: Campurkan                                        










 


                          
    500 mg Amylum                                             100 ml Aquadest hangat
    Sediaan Amylum
b.      Pembuatan Larutan Standar I2 0,05 N


 











                                    



 



1 gr I2 dalam KI            Campuran I2 + NaOH + Aquadest add 250 mL        Sediaan I2 0,05N

c.       Pembuatan Larutan Standar Na2S2O3












 
















Timbang 25 g Na2S2O3                     Tambahkan aquadest dingin ad 1 liter + 0,1 gram Na2CO3




Diamkan 1 hari sebelum pembakuan



d.      Pembakuan larutan Iodium dengan Natrium Tiosulfat 0,1 N


 


 








 









buret.jpg                   
pipet volume.jpg


sampel.jpg
erlenmeyer ungu.jpg










new-1.jpg



             
new-1.jpg    10 ml Iodium                             Erlenmeyer 250 ml


Titrasi dengan Na2SO3 sampai terjadi perubahan warna menjadi kuning jerami + 3 tetes amylum, lanjut titrasi sampai terjadi perubahan warna menjadi biru. Catat volume Na2SO3 yang berkurang ! Titrasi dilakukan triplo.




e.       Pembakuan Larutan Baku Sekunder Na2SO3 dengan Kalium Bikromat (K2Cr2O4)


 


 





 




                                                                
                   



                   





aquadest.jpgnew-1.jpgnew-1.jpg
100 mg kalium bikromat buret.jpgke dalam erlenmeyer 250 ml  + 50 ml aquadest + KI + 8 mL asam sulfat 6 N        



 
erlenmeyer ungu.jpg





new-1.jpg


Titrasi dengan Na2SO3 sampai kuning  jerami + 3 tetes amylum, lanjut titrasi sampai terbentuk warna biru. Catat volume Na2SO3 yang berkurang ! Titrasi dilakukan triplo ! 
f.       Penetapan Kadar Sampel
new-1.jpg                   Sampel salep sulfur + Kloroform  
new-1.jpg


new-1.jpgnew-1.jpg







                    Kocok kuat                      Ambil residunya                                                                                                                                                      
Refluks :
reflux.jpg   Sample hasil isolasi + sodium bisulfat + Formaldehida à Diamkan sampai mendidih, ambil airnya.  
 Penetapan kadar :

 

Text Box: Masukkan                                       


 
Text Box: Titrasi                                      








 







new-1.jpgnew-1.jpg                                                                                               

      Sample 10 ml
buret.jpg










erlenmeyer ungu.jpg


new-1.jpg




Titrasi dengan Iodium, sampai terbentuk warna biru.
Catat volume Iodium yang berkurang ! Titrasi dilakukan triplo.


F.     Data Hasil Pengamatan dan Perhitungan Salep Sulfur 2
a.      Pembakuan Larutan I2 0,05 N

Volume I2

Volume Na2S2O3

10 mL
5 mL
10 mL
4,7 mL
Rata – rata
4,85  mL


ü Perhitungan Kadar I2
N  I2 ke-1  =   
=   
=  0,05 N
N  I2 ke-2  =   
=   
=  0,047 N
N  I2 Rata-rata =   = 0,0485 N
b.      Pembakuan Larutan Na2S2O3 0,1 N

Volume K2Cr2O7

Volume Na2S2O3

100 mg
24 mL
100 mg
24,5  mL
Rata – rata
24,25 mL
           
ü Perhitungan Kadar Pembakuan Na2S2O3
N  Na2S2O3 ke-1   =    
=   
=    = 0,0849 N
N  Na2S2O3 ke-2   =    
=   
=     = 0,0832 N
N  Na2S2O3 Rata-rata =   = 0,0863 N
c.       Penentuan Kadar Sampel ( Salep Sulfur )
Volume Sampel
Volume I2
300 mg
7 mL
300 mg
7,5 mL
Rata – rata
7,25 mL

ü  Perhitungan Kadar Sampel ( Salep Sulfur ) 
Kadar  sulfur ke-1                   =   x 100 %
= 14,21 %
Kadar sulfur  ke-2                   =    x 100 %
= 15,22 %
Kadar sulfur                          =  
= 14,71 %
ü  Persentase Kesalahan
   x 100 %
                                                =  x 100 % 
= x %

G.    Pembahasan
            Penetapan kadar sampel salep sulfur dapat diidentifikasi terlebih dahulu dengan mengetahui sifat fisika dan sifat kimia dari salep serta sulfur itu sendiri sebagai suatu senyawa campuran yang dijadikan sampel. Sifat dari campuran salep sulfur yaitu vaseline flavum adalah merupakan suatu lemak yang dapat bercampur dengan kloroform/ pelarutnya saat dipanaskan. Sehingga pada saat isolasi sampel, salep sulfur pada awalnya dipanaskan terlebih dahulu dengan pelarutnya yaitu kloroform (CHCl3). Dalam hal ini digunakan pelarut kloroform agar partikel-partikel kecil dari salep itu sendiri dapat terpisah menjadi 2 bagian yang tidak bersatu antara vaseline flavum sebagai bahan campuran (basis) dan sulfurnya sendiri sebagai analit yang akan diidentifikasi. Penanganan ini amat penting dilakukan mengingat suatu sampel yang berupa salep harus diberikan perlakuan yang lebih khusus agar kedua fasa yang tadinya bercampur dapat dipisahkan menjadi 2 campuran yang tidak saling bersatu.
            Pada tahap selanjutnya dilakukan suatu perlakuan ekstraksi panas yaitu refluks. Refluks merupakan ekstraksi dengan pelarut pada temperatur titik didihnya selama waktu tertentu dan jumlah pelarut yang terbatas yang relatif konstan dengan adanya pendinginan balik. Untuk prinsipnya itu sendiri, refluks mempunyai dasar bahwa suatu sampel ditarik komponen kimianya yang dilakukan dengan cara sampel dimasukkan ke dalam labu alas bulat bersama-sama dengan cairan penyari lalu dipanaskan, uap-uap penyari terkondensasi pada kondensor bola menjadi molekul-molekul cairan yang akan turun kembali labu alas bulat, akan menyari kembali sampel yang berada pada labu alas, demikian seterusnya berlangsung secara berkesinambungan sampai penyarian sempurna. Dalam praktenya suatu sampel salep sulfur dimasukkan ke dalam suatu alat refluks dan didihkan dengan menggunakan pelarut formaldehide yang sebelumnya telah ditambahkan natrium sodium bisulfit dan kemudian direfluks sampai salep larut. Setelah itu, sampel dipipet sebanyak 10 mL pada erlenmeyer 250 mL untuk selanjutnya akan dititrasi dengan Iodium (I2). Pada saat titik akhir titrasi, terjadi perubahan warna menjadi biru sesuai dengan penetapan kadar sampel titrasi redoks secara iodimetri.
Pada praktikum yang telah dilakukan untuk menetapkan kadar sampel salep sulfur dilakukan metode titrasi reduksi oksidasi. Hal ini dapat dijabarkan karena sulfur merupakan suatu golongan non-metal yang bertindak sebagai agen pereduksi dan dapat ditentukan kadarnya dengan dititrasi menggunakan I2 sebagai oksidator kuat dan merupakan larutan baku sekunder atau lebih tepatnya penetapan kadar suatu sampel sebagai pereduktor sehingga akan terjadi reaksi reduksi-oksidasi. I2 merupakan oksidator yang bersifat moderat, maka jumlah zat yang dapat ditentukan secara iodimetri sangat terbatas. Akan tetapi karena sifatnya yang moderat ini maka titrasi dengan I2 bersifat lebih selektif dibandingkan dengan titrasi yang menggunakan titrant oksidator kuat. Pada umumnya larutan I2 distandarisasi dengan menggunakan standar primer As2O3, As2O3 dilarutkan dalam natrium hidroksida dan kemudian dinetralkan dengan penambahan asam. Hal ini disebabkan karena kelarutan iodine dalam air nilainya kecil maka larutan I2 dibuat dengan melarutkan I2 dalam larutan KI, dengan demikian dalam keadaan sebenarnya yang dipakai untuk titrasi adalah larutan I3-.
I2 + I-               I3-
Titrasi iodimetri dilakukan dalam keadaan netral atau dalam kisaran asam lemah sampai basa lemah. Pada pH tinggi (basa kuat) maka iodine dapat mengalami reaksi disproporsionasi menjadi hipoiodat.
I2 + 2 OH-             IO3-  +  I-  + H2O
Jika dilihat dari karakteristik sampel sulfur yang tidak larut dalam air dan etanol, tetapi larut dalam karbondisulfida. Tetapi, keadaan ini dilakukan pada titrasi asam-basa yang mempunyai prinsip penetapan kadar suatu sampel asam yang dititrasi dengan suatu larutan baku basa atau sebaliknya. Sehingga dalam perlakuaannya dilakukan titrasi redoks (Titrasi Iodimetri).
Sebagai larutan baku sekunder, Iodium merupakan oksidator yang relatif kuat dengan nilai potensial oksidator sebesar + 0,535 V. Pada saat reaksi oksidasi, iodium akan direduksi menjadi iodida dan akan mengoksidasi sampel resorsin yang mempunyai potensial reduksi lebih kecil dibanding iodium. Sulfur mempunyai potensial reduksi yang lebih kecil daripada iodium sehingga dapat dilakukan prinsip titrasi langsung dengan iodium. Setelah itu, larutan iodium ini dapat digunakan untuk membakukan larutan natrium tiosulfat. Dalam pembakuan untuk sampel resorsin ini dilakukan dua kali antara iodium dengan natrium tiosulfat, karena kedua zat tersebut merupakan larutan baku sekunder yang mempunyai kemurnian yang bervariasi (tidak stabil) sehingga harus dibakukan dengan larutan baku primernya yaitu K2Cr2O7, KBrO3, KIO3 sehingga nilai kemurniannya memiliki kestabilan yang tetap untuk melakukan penetapan kadar sampel resorsin.
Untuk pemilihan indikator digunakan indikator amilum, karena amilum merupakan indikator redoks yang warna dalam bentuk oksidasinya berbeda dengan warna dalam bentuk reduksinya. Sehingga indikator amilum ini tepat jika digunakan dalam titrasi iodimetri yang dilakukan dalam sampel resorsin dan akan membentuk warna biru dengan amilum dalam pencapaian titik akhir titrasinya. Atau dengan kata lain amilum ini bereaksi secara khas dengan salah satu pereaksi yaitu amilum dan menghasilkan pada akhirnya akan menghasilkan warna.
Pada keadaan asam kuat pun amilum dapat dipakai sebagai indikator yang terhidrolisis, selain itu pada keadaan ini iodide (I-) yang dihasilkan dapat diubah menjadi I2 dengan adanya O2 dari udara bebas, reaksi ini melibatkan H+ dari asam.
4 I- + O2 + 4 H+           2 I2 + 2 H2O
Titik akhir titrasi iodimetri diketahui dengan terjadinya kompleks amilum-I2 yang berwarna biru tua. Beberapa reaksi penentuan dengan iodimetri ditulis dalam reaksi berikut:
H2S + I2           S + 2I- + 2 H+
SO32- + I2 + H2O           SO42- + 2 I- + 2 H+
Sn2+  + I2           Sn4+ + 2 I-
H2AsO3 + I2 + H2O           HAsO42- + 2 I- + 3 H+
Pada kenyataanya, ditemukan kesulitan berarti yaitu pada saat sebelum melakukan titrasi sulfur harus diubah menjadi Natrium thiosulfat dengan proses refluks yang sebelumnya telah dijelaskan dan selanjutnya dititrasi dengan Iodium.
            Pada penetapan kadar sampel salep sulfur yang sebelumnya telah dipisahkan dengan melarutkannya terlebih dahulu dengan kloroform kemudian dilakukan proses refluks dengan pelarut formaldehyde yang telah ditambahkan sodium bisulfat, lalu titrasi penetapan kadar sampel dilanjutkan dengan I2. Untuk titik akhir titrasinya diperoleh hasil perhitungan sebesar 14,71 % kadar sampel sulfur yang terdapat dalam salep. Dalam hal ini, proses pemisahan dan perubahan konversi sampel bertujuan untuk mengambil atau memisahkan sampel dengan basis salepnya serta proses perubahan sampel menjadi Natrium tiosulfat untuk selanjutnya dapat larut dalam perutnya sehingga dalam proses titrasi sulfur murni dapat langsung ditentukan kadarnya dengan prinsip titrasi iodimetri.
            Setelah dihitung persentasi kesalahannya diperoleh hasil ......%. Hal tersebut dapat diuraikan karena bentuk sampel yang berupa salep sehingga terdapat sampel yang tidak teridentifikasi dalam penetapan kadarnya.

H.    Kesimpulan
            Titrasi reduksi-oksidasi menggunakan metode titrasi iodimetri dalam penentuan kadar sampel salep sulfur dengan menitrasi langsung sampel bersama Iodium. Metode titrasi ini didasarkan penentuan suatu reduktor oleh oksidatornya dengan disertai adanya serah terima elektron. Perhitungan kadar akhir yang diperoleh dari salep resorsin adalah 14,71 % dan persentasi kesalahannya sebesar ............%.

I.       Daftar Pustaka
Abdul Rohman, M.Si., Apt. Prof. Dr. Ibnu Ghorib Gandjar, DEA., Apt. (2010). Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Abdul Rohman. Sudjadi. 2008. Analisis Obat. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
A.     L. Underwood. R. A. Day, JR. (1992). Analisis Kimia Kuantitatif, edisi 5, Erlangga. Jakarta.
Cairins, Donald. 2008. Intisari Kimia Farmasi. Jakarta : Buku Kedokteran EGC.
Direktorat Jendral POM. 1995. Farmakope Indonesia, edisi IV. Jakarta :
Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Khopkar, S. M. 2003. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta : Universitas Indonesia Press.
Ham,Mulyono. 2005. Membuat Reagen Kimia di Laboraturium. Bandung : Bumi aksara.
Brady, James E. 1999. Kimia Universitas Asas dan Struktur. Jakarta. Binarupa Aksara.
http://id.wikipedia.org/wiki/Belerang.html  (diakses tanggal 25-02-2012 jam 12.00).

MOHON MAAF, DATA YANG DIMASUKKAN DALAM BLOG INI UNTUK
SUSUNANNYA TIDAK SEMPURNA, UNTUK DATA YANG "SEDIKIT SEMPURNA" 
BISA MENGHUBUNGI SAYA.

2 komentar:

  1. Bisa bantu masalah gambar pada metode kerja praktikum ini.thks

    BalasHapus
  2. Tolong kirimkan rincian prosedur kerja penentuan kadar sulfur/belerang lengkap dengan perhitungan kadarnya. Thnks

    BalasHapus

Silahkan jika ada pendapat lain, masukan, atau kritik membangun untuk kebaikan penulis, khalayak, dan isi blog ini bisa tuliskan pesan di bawah ini dengan menyertakan identitas. Terima kasih.