Selamat datang di Zona Yoggazta Jaga sikap dan tanamkan kedamaian ya Dan jadiLah diri kamu sendiri ok Yoggazta Cinta Damai

Kamis, 24 Maret 2011

Laporan Praktikum Titrasi Pengendapan


LAPORAN PRAKTIKUM
KIMIA ANALITIK KUANTITATIF

TITRASI PENGENDAPAN








YOGA KEVAN RAHMAT
FARMASI 2B
31109071



SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
BAKTI TUNAS HUSADA (PRODI FARMASI)
TASIKMALAYA
2010
A.     Tujuan
      Dapat menentukan kadar suatu zat dalam larutan dengan menggunakan titrasI pengandapan (argentometri)

B.     Dasar Teori
     Titrasi pengendapan merupakan titrasi yang melibatkan pembentukan endapan dari garam yang tidak mudah larut antara titrant dan analit. Hal dasar yang diperlukan dari titrasi jenis ini adalah pencapaian keseimbangan pembentukan yang cepat setiap kali titran ditambahkan pada analit, tidak adanya interferensi yang menggangu titrasi, dan titik akhir titrasi yang mudah diamati.
Salah satu jenis titrasi pengendapan yang sudah lama dikenal adalah melibatkan reaksi pengendapan antara ion halida (Cl-, I-, Br-) dengan ion perak Ag+. Titrasi ini biasanya disebut sebagai Argentometri yaitu titrasi penentuan analit yang berupa ion halida (pada umumnya) dengan menggunakan larutan standart perak nitrat AgNO3. Titrasi argentometri tidak hanya dapat digunakan untuk menentukan ion halide akan tetapi juga dapat dipakai untuk menentukan merkaptan (thioalkohol), asam lemak, dan beberapa anion divalent seperti ion fosfat PO43- dan ion arsenat AsO43-.
Dasar titrasi argentometri adalah pembentukan endapan yang tidak mudah larut antara titran dengan analit. Sebagai contoh yang banyak dipakai adalah titrasi penentuan NaCl dimana ion Ag+ dari titran akan bereaksi dengan ion Cl- dari analit membentuk garam yang tidak mudah larut AgCl.
Ag(NO3)(aq)  +  NaCl(aq) -> AgCl(s)  + NaNO3(aq)
Setelah semua ion klorida dalam analit habis maka kelebihan ion perak akan bereaksi dengan indicator. Indikator yang dipakai biasanya adalah ion kromat CrO42- dimana dengan indicator ini ion perak akan membentuk endapan berwarna coklat kemerahan sehingga titik akhir titrasi dapat diamati. Inikator lain yang bisa dipakai adalah tiosianida dan indicator adsorbsi. Berdasarkan jenis indicator dan teknik titrasi yang dipakai maka titrasi argentometri dapat dibedakan atas Argentometri dengan metode Mohr, Volhard, atau Fajans. Selain menggunakan jenis indicator diatas maka kita juga dapat menggunakan metode potensiometri untuk menentukan titik ekuivalen.
Ketajaman titik ekuivalen tergantung dari kelarutan endapan yang terbentuk dari reaksi antara analit dan titrant. Endapan dengan kelarutan yang kecil akan menghasilkan kurva titrasi argentometri yang memiliki kecuraman yang tinggi sehingga titik ekuivalen mudah ditentukan, akan tetapi endapan dengan kelarutan rendah akan menghasilkan kurva titrasi yang landai sehingga titik ekuivalen agak sulit ditentukan. Hal ini analog dengan kurva titrasi antara asam kuat dengan basa kuat dan anatara asam lemah dengan basa kuat.
C.  Alat dan bahan
  Alat : Erlen meyer, pipet volume, bulb, buret, alat titrasi, labu ukur, pipet tetes.
  Bahan : AgNO3, NaCl, K2CrO4, Aquadest.
D.  Prosedur
 a. 1.                              Pipet 10 ml NaCl
    
2.                                                 NaCl 10ml + 1 ml K2CrO4

                                         AgNO3  sampai penuh
     3. 

                            Titrasikan

                                      Campuran prosedur nomor 2 kemudian hentikan setelah berwarna

                                        
     4. Lakukan sebanyak duplo, hitung volume dan kadar AgNO3 dan rata-ratakan.









 b.  1.             sample 10ml

                         sample 10ml + Aquadest add batas garis
      2.




     
3.                                      pipet sebanyak 10 ml                                        10 ml aquadest
                                                                                                    + 1 ml K2CrO4






     4.
                                         AgNO3 sampai penuh


                            Titrasikan

                                      Prosedur nomor b 3 diatas, hentikan titrasi sesudah berwarna



5.  Lakukan sebanyak triplo, hitung volume AgNO3 dan kadar sample.


E.   Pembahasan

       Telah dilakukan percobaan titrasi pengendapan dengan cara mohr, dengan menguji NaOH dan AgNO3, dan sample nomor 18, dilakukan sebanyak 2x percobaan untuk NaOH dan 3x percobaan titrasi untuk sample. Percobaan dengan menggunakan indikator 1 ml K2CrO4 , berikut terdapat hasil pengamatan dan tabel perhitungannya :




Tabel Perhitungan :
Volume NaCl
Volume AgNO3
10 ml
12,5 ml
10 ml
12,6 ml


Rata-rata
12,55 ml
Kadar AgNO3:
1.    10 ml x 0,03         =  0,024 N


 

           12.5 ml

2.    10 ml x 0,03         =  0,023 N     +








 

                                                                                 12,6 ml             0,047 / 2 = 0,02 N

Tabel Perhitungan :
Volume Sample
Volume  AgNO3
10 ml
21 ml
10 ml
23 ml
10 ml
21,7 ml
Rata-rata
21,9 ml
Kadar NaOH :
1.       0,02 x 21           =  0,042 N


 

            10 ml

2.       0,02 x 23            =  0,046 N


 

                                                                                 10 ml

                                                                     3.       0,02 x 21,7          =  0,043 N    +
 
                                                                                 10 ml                0,131 / 3 = 0,04 N


F.  Kesimpulan
      Dalam titrasi pengendapan ini, khususnya dalam pengendapan dengan cara mohr akan menghasilkan endapan berwaena merah bata disertai keruh.

G. Daftar Pustaka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan jika ada pendapat lain, masukan, atau kritik membangun untuk kebaikan penulis, khalayak, dan isi blog ini bisa tuliskan pesan di bawah ini dengan menyertakan identitas. Terima kasih.